Aku yang berusaha menerima diriku apa adanya

 

                Masa remaja adalah masa transisi dari berpindahnya masa anak-anak ke masa dewasa, masa remaja membawa banyak perubahan kepada kita, entah perubahan fisik yang dulunya kita sangat pendek berubah menjadi sangat tinggi dalam waktu yang tidak cukup lama, atau perubahan mental yang dulunya kita ceria, Bahagia dan banyak tawa sekarang cenderung menjadi penyendiri, terlihat muram dan lain-lain. Namaku Rizaldi Ian Indiarto, aku dulu adalah seorang anak yang sangat pendek, sewaktu dibangku SMP aku sangat tidak percaya diri dengan penampilanku yang pendek, hitam dan dekil, jadi Ketika ada tugas membaca puisi, menyanyi, dan tugas lainnya yang diharuskan untuk tampil di depan banyak orang, aku akan sangat gugup dan mengeluarkan banyak keringat, entah ada apa denganku.

                Masa SMP-ku kulalui dengan penuh tantangan. Saat aku menapak kaki di bangku SMA aku diperkenalkan oleh banyak orang yang belum pernah aku temui sebelumnya. Namun, beruntungnya aku, Sahabat baikku diterima di SMA dan kelas yang sama sepertiku, ini seperti mimpi bagiku, dialah yang menemani aku sewaktu SMP dan menjadi tempatku bercerita saat aku susah dan senang, dialah yang menerima aku apa adanya. Sewaktu SMA entah apa yang terjadi padaku, tetapi aku merasa ada yang berbeda dengan diriku, tubuhku yang dulunya sangat pendek sewaktu SMP sekarang berubah menjadi sangat tinggi, perubahan ini malah menumbuhkan rasa tidak percaya diriku semakin tinggi. Namun, sahabatku bilang “tidak apa-apa, tidak usah panik, ini wajar” kata-kata itulah yang membuatku pergi ke sekolah setiap hari, tetapi itu semua tidak cukup aku masih mempunyai rasa tidak percaya diri didalam diriku.

                Tidak lama kemudian tumbuh sebuah jerawat di mukaku, yang mana membuat diriku merasa lebih malu, semakin hari semakin banyak jerawat yang tumbuh, aku tahu ini adalah masa transisiku menuju masa dewasa, aku tahu aku harus siap menerima resikonya, tetapi diriku tidak siap akan hal itu. Saat itulah aku merasa diriku berada di titik terpurukku. Aku merasa menjadi makhluk yang paling jelek di dunia. Setelah kejadian itu aku bercerita kepada sahabatku, mengapa dia bisa merasa percaya diri saat masa transisi ini sedangkan aku tidak. Sahabatku menjawab “sudah tenang, itu tidak apa apa ini cuma hal biasa tidak usah khawatir” itulah kata kata yang diucapkannya, saat itu aku tidak mengerti apa maksudnya, lalu setelah itu dia mengajakku mengikuti organisasi. Aku mengangguk dan menurutinya. Di organisasi itu aku belajar bagaimana cara memahami teman, bekerja dalam tekanan, dan percaya diri saat tampil di depan banyak orang.

                Hal yang kudapat saat bergabung organisasi adalah kamu harus menerima dulu dirimu apa adanya, hal yang membuatmu merasa tidak percaya dirilah yang mencegah dirimu berkembang. Hal kedua yang diperlukan untuk memahami dan menerima diri apa adanya ialah teman atau sahabat yang menerima dirimu apa adanya, karena dialah yang bisa menenangkan dirimu dan dia pun juga harus bisa mengingatkan dirimu untuk menyayangi dirimu. Itulah 2 hal yang menurutku sangat penting untuk kamu yang masih merasa kurang percaya diri. Disamping itu kamu jangan lupa untuk selalu mengapresiasi dirimu atas semua yang telah kamu capai. Itulah beberapa hal yang membantu saya menghilangkan rasa tidak percaya diri. It all starts with loving yourself.


Sekian. Terima kasih.

Comments