Kesehatan Mental Generasi
Z
Generasi
Z adalah generasi yang didefinisikan oleh para ahli demogradi sebagai orang
yang lahir mulai tahun 1997. Pastinya saat kita masih kecil atau remaja kita
sering menghabiskan waktu untuk bermain, bersantai, bersenang senang. Namun,
seiring berjalannya waktu kita akan menjadi tua dan semakin tua, semakin banyak
pula masalah yang harus dihadapi. Namun, hal ini bertolak belakang dengan
penelitian yang dilakukan oleh American Psychological Association (APA)
pada tahun 2018 yang berjudul “Stress in America: Generation Z”, penelitian
tersebut menunjukkan bahwa anak muda usia 15 sampai 21 tahun adalah kelompok
manusia dengan kondisi Kesehatan mental terburuk dibangdingkan dengan
generasi-generasi lainnya.
Merekalah
yang disebut dengan Generasi Z. Adapun lima golongan generasi lainnya yaitu, silent
generation, baby boomer, millennials, generation X, dan generation Z. Hasil
penelitian ini didapati dari mewawancarai 3500 partisipan berumur 18 tahun
keatas, dan 300 partisipan dengan usia 15 sampai 17 tahun. Menurut penelitian
APA tersebut diperoleh hasil bahwa 91 persen generasi Z mempunyai gejala-gejala
emosional maupun fisik yang berkaitan dengan stress, seperti depresi dan
gangguan kecemasan. Stres merupakan factor utama yang menyebabkan buruknya
Kesehatan mental generasi Z. Adapun factor-faktor yang membuat stress generasi
Z antara lain, peningkatan angka bunuh diri, peningkatan laporan terhadap kasus
kekerasan dan pelecehan seksual, pemanasan global, dan lain-lain.
Ada
juga penelitian yang menyatakan hasil yang sama, yaitu sebuah riset yang
dilakukan oleh Pew Research Center, sebuah thinktank. Pada akhir tahun
2018, Pew melakukan jajak pendapat dengan 920 orang Amerika yang berusia 13
sampai 17 tahun tentang masalah yang mereka lihat di antara para rekan mereka.
Data menunjukkan bahwa mereka tidak terlalu mempedulikan masalah klasik remaja
generasi generasi sebelumnya, seperti kehamilan yang tidak direncanakan, atau
alcohol dan pesta minuman keras. Remaja sekarang ternyata lebih mengkhawatirkan
Kesehatan mental.
Tidak
kurang dari 70 persen responden memiliki gangguan kecemasan dan depresi adalah
masalah utama di antara rekan rekan mereka. Remaja dari rumah tangga yang lebih
miskin cenderung melaporkan masalah perilaku yang lebih luas daripada mereka
yang berasal dari rumah tangga yang berkecukupan atau kaya. Namun, kekhawatiran
tentang Kesehatan mental memengaruhi kedua kelompok secara setara, diakibatkan
tidak lepasnya dampak media sosial bagi generasi Z.
Ada
beberapa cara untuk mengatasi depresi dan gangguan kecemasan, diantaranya yang
pertama pergi keluar rumah. Luangkanlah waktu untuk duduk atau berjalan di
ruang terbuka, waktu yang baik untuk berjalan jalan ialah saat pagi hari dengan
melihat pepohonan dan menghirup udara segar. Hal ini akan membuat tubuh menjadi
lebih rileks dan menhilangkan rasa stres dalam pikiran serta mengisi Kembali
energi di dalam tubuh. Kedua adalah bicara atau curhat kepada teman ataupun
keluarga. Cara terbaik untuk menyingkirkan masalah Kesehatan mental adalah
terhubung dengan orang orang. Mengekspresikan dan membagikan emosi kepada teman
atau keluarga membantu menyingkirkan stress dan menenangkan pikiran. Semakin
berinteraksi dengan teman atau keluarga dan berbagi masalah dengan orang lain,
maka semakin mudah melepaskan rasa stres yang dialami. Ketiga, buatlah
perasaamu selalu bahagia dengan melakukan hobi yang positif, seperti menyanyi,
berolahraga, menari, dan lain lain. Carilah hobi yang membuat anda lupa dengan
semua kepenatan yang dialami. Itulah beberapa hal yang bisa dilakukan untuk
mengurangi rasa stres yang anda alami.
Comments
Post a Comment